Satu dari tiga alasan kenapa Portugis bertahan di Flores dan sekitarnya selama 347 tahun (1512-1859) padahal wilayah itu tidak memiliki cengkeh, pala dan lain-lain seperti di Maluku adalah karena banyaknya gunung berapi di Flores dari ujung timur hingga ke tengah. Gunung berapi atau mereka sebut vulcão di pulau Flores adalah penyumbang terbesar bubuk mesiu di abad 16 yang dipasarkan hingga ke Afrika dan Eropa. Bubuk mesiu di pulau Flores sendiri sudah ditulis oleh Tom Pires dalam bukunya yang terkenal dengan judul Suma Oriental, yang mengatakan “Pulau Solor (Flores) memiliki jumlah asam yang sangat banyak; mengandung banyak belerang, dan produk ini lebih dikenal daripada produk lainnya. Mereka membawa bahan makanan dalam jumlah besar dari pulau ini ke Malaka, mereka pun membawa asam dan belerang. Belerang ini sangat banyak sehingga mereka membawanya sebagai barang dagangan dari Malaka ke Cochin, Cina, Afrika karena merupakan barang dagangan utama”.
Bubuk mesiu sendiri berasal dari biji belerang yang dihasilkan oleh letusan gunung berapi. Oleh karena Banda dan Timor tidak memiliki gunung berapi maka Flores menjadi andalan Portugis dimasa itu seperti dikisahkan oleh Tom Pires yang mengatakan “Tuhan menjadikan Timor untuk kayu cendana dan Banda untuk gada dan Maluku untuk cengkeh, dan bahwa dagangan ini tidak dikenal di mana pun di dunia kecuali di tempat-tempat ini; dan saya bertanya dengan sangat rajin saya bertanya kepada mereka mereka memiliki barang dagangan ini di tempat lain dan semua orang mengatakan tidak”
Selain bubuk mesiu sebagai bahan peledak, 2 alasan lain adalah melimpahnya kayu cendana putih di Solor dan Adonara serta perbudakan yang mudah diperoleh disana. Budak-budak ini memiliki harga yang sama dengan 1 kg cendana dan umumnya dikirim ke pasar Afrik dan Eropa selebihnya dikirim sebagai pekerja kasar pada lahan perkebunan kopi milik kolonial Portugis di Brasil dan wilayah lain di Afrika. Foto ini adalah gunung berapi Lewotobi. Dibawah kaki gunung ini, Portugis membangun sebuah pemukiman yang dilengkapi dengan sebuah gereja bernama Igreja São Domingos sekarang dikenal dengan sebutan San Dominggo- Hokeng.
Nama São Domingos dipakai untuk mengenang kembali kaum Dominikan yang melakukan ekspansi di abad 15 ke wilayah ini dan mendirikan sejumlah Gereja seperti Luis da Maya yang mendirikan Gereja Nossa Senhora da Piedade (Bunda Kita Yang Setia) di pulau Solor, P. Cristovão Rangel yang mendirikan Gereja São João Baptista (Santo Yohanes Pembaptis) (di luar benteng Solor), Gereja Misericórdia (di desa Laboiana; Madre de Deus (Bunda Allah), Gereja São João Evangelista (Santo Yohanes Evangelis) di desa Lamaqueira (Lamakera), António de São Jacinto yang mendirikan Gereja Espírito Santo (Gereja Roh Kudus) (menggantikan Crama); Roque Cardoso yang mendirikan Gereja São Lourenço (Santo Laurensius) di Lavunama (Labonama); Nossa Senhora da Esperança (Bunda Harapan Kita), di Boibalo (Waibalun), Gaspar de Santa Maria yang mendirikan Gereja Nossa Senhora (Bunda Kita), di desa Larantuka, Francisco Donato yang mendirikan Gereja Santa Luzia, di Sikka dan Paga; Nossa Senhora da Assunção (Bunda Maria Diangkat ke Surga) di Quevá, Gereja São Pedro Mártir (Santo Petrus Martir) di Lena; Gereja Nossa Senhora da Boa Viagem (Bunda Penyelamat Perjalanan Kita) di Dondo, Ende, pantai utara Flores, Crisóstomo de Santiago yang mendirikan Gereja São Domingos (Santo Dominikus) di Numba (Ende), Agostinho do Rosario yang mendirikan Gereja Santa Maria Madalena (Santa Maria Magdalena) di Charaboro (Saraboro), Ende (sekarang Kotaraja atau Paupanda).
Sebuah buku bagus yang didedikasikan untuk kepulauan rempah-rempah diterbitkan pada bulan Desember 2022. Buku tersebut menjelaskan secara rinci benteng dua pulau Ternate dan Tidore di Maluku, Kepulauan Rempah-rempah yang terkenal. Teks buku ini bilingual dalam bahasa Spanyol dan Inggris.
Dari sampul buku: “Buku ini menawarkan perjalanan yang persis dan terperinci dari masing-masing benteng Ternate dan Tidore yang dibangun oleh kekuatan bangsa Eropa yang bersaing untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari pulau rempah-rempah ini, utamanya cengkeh, dan pala, selama abad ke-16 dan ke-17, menyajikan informasi kepada para pelancong tentang aspek-aspek historis terpenting yang terjadi selama periode paling bergejolak dalam sejarah Kepulauan Maluku”.
Info Buku ISBN 978-623-321-179-6 PENULIS: Juan Carlos Rey, Antonio Campo dan Marco Ramerini Dimensi 22 x 27 cm Jenis Cover Hard Cover Jenis Kertas Matt paper Berat 750 gram Jumlah Halaman 120 hlm (Full Colour) Tahun Terbit 2022 Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang menaklukan sejumlah wilayah di Nusantara. Wilayah yang ditaklukan Portugis tersebut kemudian direbut oleh Belanda dengan cara perang, negosiasi, tipu muslihat, adu domba hingga jual beli berkedok pertukaran wilayah kolonial. Wilayah-wilayah yang diperebutkan oleh Portugis dan Belanda ini kemudian hari menjadi bagian dari sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kehadiran bangsa Portugis pada abad ke XV hingga abad ke XVII di sejumlah wilayah Nusatara antara lain Aceh, Jawa, Ternate, Tidore, Makasar, Manado, Solor, Adonara, Alor dan sekitarnya, pulau Timor serta Flores pada umumnya khusus kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia tidak terlepas dari misi bangsa kolonial Portugis saat itu yaitu Feitaria, fortaleza, a Igreja yang artinya perdagangan, dominasi militer dan evangelisasi.Dalam versi bahasa Inggris Feitaria, Fortaleza, a Igreja kemudian ditafsirkan menjadi Gold, Glory, Gospel.
Di Kabupaten Sikka, pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur selain kampung Sikka dan Paga yang telah dikenal secara luas sebagai bekas wilayah kolonial Portugis yang bahkan diatur dalam sebuah perjanjian yang bernama Tratado Demarcação E Troca De Algumas Possessoes Portuguese E Neerlandezas No Archipelago De Solor E Timor yang artinya Perjanjian Demarkasi Dan Pertukaran Beberapa Kepemilikan Portugis dan Belanda Di Kepulauan Solor dan Timor yang ditandatangani Dom Pedro V dan Mauricio Helderwier tanggal 20 April 1859, ternyata masih terdapat sejumlah tempat lainnya yang setidak-tidaknya pernah mendapat pengaruh Portugis seperti kecamatan Bola dan kecamatan Kewapate serta sebuah sumber air tawar di pinggir pantai utara pulau Flores yang bernama Wair Noke Rua yang artinya Mata Air Santo. Berjarak 12 km dari kota Maumere ke arah utara Pulau Flores tempat tersebut diyakini sebagai tempat yang disinggahi oleh Santo Fransiskus Xaverius dalam pelayaran dari Ternate ke Malaka saat itu untuk mengisi perbekalan.
Meski saat ini tidak ada lagi penjajahan di seluruh dunia, namun jejak dan pengaruh Portugis di Kabupaten Sikka dapat ditemukan hingga saat ini, yaitu Gereja Tua di desa Sikka, sejumlah benda pusaka yang dibawa oleh Raja Dom Alexius Ximenes da Silva dari Malaka seperti helm, dua kalung, tongkat kerajaan yang semuanya terbuat dari emas. Pusaka tersebut diberikan oleh Portugis ketika menobatkan Dom Alexius Ximenes da Silva sebagai raja. Sebagai bentuk terima kasih, Portugis kemudian memberikan sejumlah barang tersebut beserta hak hegemoni parsial di dan sekitar Sikka. Selain itu pun terdapat sebuah tanah kosong yang diyakini masyarakat di Paga sebagai tempat didirikannya Gereja oleh Portugis yang oleh masyarakat setempat disebut Gereja Manu, sebuah batu kuburan tempat yang diyakini sebagai tempat pemakaman 2 orang portugis, tari Bobu dan meriam portugis di Paga.
Grave stone, is believed to be the burial place of 2 Portuguese people who were beheaded by Anthony Da Costa or Mamo Ndona. Photo Fransisco Soarez Pati, S.H,
Di Kabupaten Sikka juga terdapat sebuah batu karang di pesisir selatan laut Sawu di kecamatan Bola. Pada abad XVI Portugis menancapkan sebuah salib diatas batu karang tersebut yang oleh qarga setempat disebut Watu Cruz (Batu Salib), juga nama kecamatan Queva – Pantai (Kewapante) dan marga-marga Portugis seperti Da Gama, Da Silva, Da Gomez, Da Cunha, Da Lopez, Da Costa, Da Rato, Parera, Fernandez, Carwayu (Carvalho), Rodriquez, Kondi (Conde) serta sejumlah nama panggilan seperti Samador (Semeador), Don, Ximenes, Menina, Soares, Alvares, Tavares, Pedro, Jasinta, Jose, Maria, Edmundus (Edmundo), et cetera.
Salah satu warisan peninggalan Portugis yang telah menyatu dengan budaya masyarakat kabupaten Sikka hingga saat ini adalah penggunaan sejumlah kosa kata dalam komunikasi sehari-hari dalam bahasa daerah Sikka (Krowe) yang dituturkan secara turun temurun sejak abad kelima belas.
Sejumlah kosakata Portugis yang telah menyatu dengan budaya masyarakat kabupaten sikka antara lain Misa artinya perayaan Ekaristi dalam liturgi Katolik, Gereja dari kata Igreja, Cruz dari kata Cruz artinya Salib, Sumana dari kata Semana artinya Pekan, Semana Santa dari kata Semana Santa artinya Pekan Suci, Segunda dari kata Segunda artinya Senin, Terça-feira dari kata Terça-feira artinya Selasa, Quarta dari kata Quarta artinya Rabu, Quinta dari kata Quinta artinya Kamis, Sesta dari kata Sexta Feira artinya Jumat, Sabut dari kata Sábado artinya Sabtu, Duminggu dari kata Domingo artinya Minggu, Seu dari kata Ceu artinya Surga, Anjo dari kata Anjo artinya Malaikat, Anjo Da Guarda dari kata Anjo Da Guarda artinya malaikat pelindung, Plender dari kata Aprender artinya belajar, Jentiu dari kata Gentios (non-Yahudi). Dalam bahasa Sikka “jentiu” diidentikan dengan orang yang malas ke Gereja, kemudian santa dari kata Santa artinya orang kudus/suci (untuk perempuan), Santo dari kata Santo artinya orang kudus/suci (untuk laki-laki), Bola dari kata Bola artinya bola, Siruwisu dari kata Serviço artinya melayani dalam arti mata pencaharian atau pekerjaan, Kadera dari kata Cadeira artinya kursi, lemari dari kata Almario, Armada dari kata Armada, bendera dari kata Bandeira, Violin dari kata violin, boneka dari kata Boneca, Dadu dari kata Dados, Dansa dari kata Dança a, Kama dari kata Cama artinya tempat tidur, Ganco dari kata Gancho, Jendela dari kata Janela, kemeja dari kata Camisa, kertas dari kata Carta, lentera dari kata lenterna, meja dari kata Mesa, mentega dari kata Manteiga, Nona dari kata dona artinya nona, permisi dari kata Permissão, pesta dari kata festa, sabang dari kata dari kata Sabão artinya sabun, serdadu dari kata Soldado, terigu dari kata Trigo, tinta dari kata Tinta, Lesu dari kata Lenço artinya sapu tangan, Bako dari kata tabaco artinya rokok, Tapioca dari kata Tapioca, sepatu dari kata Sapato artinya sapato, Salto dari kata salto, Rosario dari kata Rosario, pesir dari kata Passear which artinya jalan-jalan, Peniti dari kata Alfinete, markisa dari kata Maracujá, mandor dari kata Mandador, Martir dari kata Mártir, Kapitan dari kata capitão, Gudang dari kata gudão, Botir dari kata botelha artinya botol, Aula dari kata Aula artinya hall, Akta dari kata Acta, Politik dari kata Politico, Maitua dari kata Mãe artinya ibu (dikhususkan kepada pemudi), Paitua dari kata Pai artinya father (dikhususkan kepada pemuda), Tripleks dari kata Triplex artinya triplex, Ara dari kata Arroz artinya nasi, garpu dari kata Garfo dan terakhir Mate dari kata Morto artinya mati.
Vacant land is a former Portuguese Church,The Paganess believe in this place the Catholic Church was built in the 17th century. Now the Church building is no longer. Photo Fransisco Soarez Pati, S.H,
Selain itu salah satu warisan bangsa kolonial Portugis yang sangat mengakar di tengah kehidupan masyarakat Kabupaten serta masyarakat pulau Flores, Indonesia adalah agama Katolik. perjalanan agama Katolik di pulau Flores, Solor, Adonara, Lembata dan sekitarnya memiliki bentang sejarah yang Panjang. Pada saat terjadi negosiasi untuk menindaklanuti kesepakatan penjualan wilayah kolonial Portugis di seluruh Pulau Flores, Timor Barat, Solor, Adoara, Alor dan Pantar yang kemudian dikenal dengan nama Tratado Demarcação E Troca De Algumas Possessoes Portuguese E Neerlandezas No Archipelago De Solor E Timor yang artinya Perjanjian Demarkasi Dan Pertukaran Beberapa Kepemilikan Portugis dan Belanda Di Kepulauan Solor dan Timor yang ditandatangani Dom Pedro V dan Mauricio Helderwier tanggal 20 April 1859, Parlemen Belanda menyampaikan keberatannya karena di dalam perjanjian tersebut Portugis tidak memberikan kebebasan kepada Belanda untuk membawa misi Protestan (Zendeling) di pulau Flores dan sekitarnya. Dilain pihak Portugis tetap pada pendiriannya bahwa agama Katolik yang sudah diperkenalkan kepada masyarakat di Flores dan sekitarnya harus tetap menjadi agama masyarakat.
Sebagai gantinya Belanda diberi kekebasan untuk menjalankan misi protestan di wilayah pulau Timor bagian barat dan pulau-pulau sekitarnya. Penyebaran agama Protestan dapat dilhat dari identitas warga provinsi Nusa Tenggara Timur di wilayah pulau Timor bagian barat yaitu sebagian kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Kupang, Sabu, Rote, Sumba dan kepulauan Alor yang mayoritas masyarakat modern saat ini beragama Protestan. Sedangkan masyarakat Flores, Solor, Adonara, Lembata dan pulau-pulau sekitar beragama Katolik.
Karel Steenbrink dalam bukunya berjudul Orang-Orang Katolik Di Indonesia, Jilid I, penerbit Ledalero, Maumere, mengemukakan bahwa prinsip bangsa kolonial Portugis saat itu adalah “bendera boleh ganti, tetapi agama tidak boleh diubah. Katolik Roma harus dipertahankan seperti sebelumnya”(O catolicismo Romano deve ser preservado como antes). Agama Katolik kemudian mengakar di tengah masyarakat kabupaten Sikka pada khususnya dan masyarakat pulau Flores dan sekitarnya pada umumnya dan tetap menjadi agama mayoritas masyarakat. Tanpa Portugis masyarakat pulau FLores, Solor, Adonara, Lembata di Indonesia mungkin tidak akan mengenal agama Katolik saat ini. (Sem os Portugueses, o povo das ilhas das Flores, Solor, Adonara e Lembata em Indonesia talvez não saber do catolicismo hoje).
DAFTAR PUSTAKA :
(1861), Tratado Demarcação E Troca De Algumas Possessoes Portuguese E Neerlandezas No Archipelago De Solor E Timor, Entre Sua Magistrade El-Rei De Portugal E Sua Magistade El Rei De Paizes Baixos, Assignado Em Lisboa Pelos 20 Abril, 1859
António d’Oliveira Pinto da França, Pengaruh Portugis Di Indonesia, Cetakan Pertama, PT. Penebar Swadaya, , 2000, diterjemahkan oleh Katoppo dari judul asli “Portuguese Influenced in Indonesia”, Calouste Gulbenkian Foundation, Lisabon, 1985
Joaquim Magalhães de Castro, Lautan Rempah Peninggalan Portugis di Nusantara, PT. Elexmedia Computindo, 2019
Karel Steenbrink, Orang-Orang Katolik Di Indonesia, 1808-1942, Sebuah Profil Sejarah, Jilid I, Penerbit Ledalero, Cetakan I, April, 2006.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dari April 1606 setelah penaklukan oleh pasukan Acuña kota Ternate, orang Spanyol memiliki, di Maluku, sebagai utama mereka dan sering sekutu hanya Raja Tidore. Mereka mencoba selama beberapa dekade untuk melawan pertumbuhan kekuatan tentara Belanda, menduduki beberapa pulau dengan garnisun benteng. Pulau Tidore memainkan peran kunci di antara mereka.
Setelah penaklukan Spanyol dari Ternate Raja Tidore telah ditawarkan kepada Pedro de Acuña penaklukan kerajaan-Nya ke Spanyol dan juga berjanji pembangunan benteng Spanyol di pulau itu. Acuña, pada kenyataannya, pada saat keberangkatannya telah memerintahkan antara karya-karya yang akan dilaksanakan segera pembangunan benteng Spanyol di pulau Tidore dan menurut perintah ini seorang kapten dengan beberapa tentara Spanyol harus ditempatkan di sana. 1
Urutan ini, seperti yang akan kita lihat, bagaimanapun, tidak akan dieksekusi oleh Juan de Esquivel, ditunjuk oleh Acuña sebagai gubernur Ternate. Aliansi dengan raja Tidore selama bertahun-tahun adalah penting untuk pemeliharaan kehadiran Spanyol di Maluku. Memang, pada awalnya, Acuña ingin menempatkan raja Tidore di kepala kerajaan Ternate. 2
Pentingnya untuk Spanyol dari pulau Tidore jelas dijelaskan oleh kata-kata Pedro de Heredia: ‘…se si desmantelara la fuerça de Tidore no tuuiera el Rey nuestro señor en muy breue tiempo palmo de tierra que fuera suyo por ser plaça tan importante…’ ‘…pues sin aquella plaça no se podia conseruar un mes la de Terrenate…’ 3 Pada kenyataannya, bahkan Geronimo de Silva menganggap Tidore penting bagi kehidupan Spanyol Ternate, karena selain menjadi raja sekutu utama Spanyol, pulau itu memasok Ternate dengan ‘… viandas de pescado y gallinas, y otras vituallas que de allá se traen.’ 4
Benteng Tohula, Tidore, Indonesia. Author van de Wall (1928)
Sekali lagi Geronimo de Silva hakim, dalam surat lain, pulau Tidore, yang paling penting dari Maluku, dan dari yang datang persediaan yang dibutuhkan untuk kehidupan kota Ternate.5 Mengenai produksi cengkeh, pulau itu memproduksinya dalam jumlah kecil, kecil dibandingkan dengan jumlah yang diproduksi di pulau Maquien dan Motiel, sepenuhnya dikendalikan oleh Belanda, ‘Y es muy poco en comparación del que tienen los holandeses en las islas de Maquien, y Motiel que estan tambien de uaxo ala equinoxial, y muy cercanas, y vecinas a Terrenate, y Tidore.’6
Namun, di antara milik mereka, itu hanya pulau Tidore, yang orang-orang Spanyol memperoleh kuantitas siung ‘… Tidore da un año con otro cuatrocientos bases’ yaitu, 2400 kwintal, dibandingkan dengan total produksi di kepulauan Maluku, diperkirakan oleh Geronimo de Silva pada 9000 kwintal “mil y quinientos bases de clavo que son nueve mil quintales”.7 Mulai dari 1613, dengan hilangnya Benteng Marieko, produksi cengkeh dikendalikan oleh orang-orang Spanyol akan menjadi lebih signifikan, Marieko, pada kenyataannya, yang terletak di bagian paling produktif dari pulau.
Kritis juga pengelolaan pasar cengkeh yang dibuat oleh orang-orang Spanyol. Geronimo de Silva Infact jelas pada titik ini, jumlah di tangan orang-orang Spanyol, meskipun kecil, bisa, jika diperdagangkan, seperti halnya Belanda, melalui sebuah peternakan dikendalikan oleh Raja, bisa membuat 30.000 dukat, jika diperdagangkan di India, tetapi akan membuat lebih banyak lagi, jika diperdagangkan langsung ke Eropa, sedangkan dengan sistem yang ada, dioperasikan oleh orang pribadi, mahkota Spanyol tidak menerima anuitas apapun. Jika Spanyol bisa memiliki tangan mereka penuh dalam produksi cengkeh dari pulau-pulau tersebut, akan ada sekitar 1500 “bases de clavo“, yaitu sembilan ribu kwintal per tahun dan mereka mungkin mendapatkan, jika dijual langsung ke pasar Eropa, 150.000 dukat setahun.8
Ternate and Tidore, Indonesia. Author . No Copyright
Pentingnya Tidore dan aliansi, dimana Spanyol dipertahankan dengan raja pulau, juga sangat jelas bagi Belanda, yang, terutama pada tahun-tahun awal, berulang kali mencoba untuk mengusir Spanyol dari pulau: pada awal Mei 1.607 armada Matelief Cornelis 9 dirancang untuk menyerang Tidore. Untuk tujuan ini sebuah perahu untuk meminta bala bantuan dikirim ke pemberontak Ternatese. Orang Belanda, meskipun kedatangan sedikit dari bala bantuan, perahu dengan sekitar 200 prajurit, yang tiba dengan sultan muda Ternate dan Jailolo, bagaimanapun, memutuskan untuk menyerang pulau, yang membela awalnya oleh tiga puluh tentara Spanyol di samping Tidorese tersebut. Pendaratan dicoba pada beberapa perahu dan ‘caracoras’, yang telah memulai sekitar 300 tentara, tapi penerimaan oleh Spanyol dan Tidorese panas dan penyerang dipaksa mundur dengan kerugian beberapa. Upaya itu berakhir buruk untuk keduanya. Kurangnya pengalaman dan ketidakbiasaan dengan dasar laut oleh Belanda besar, karena kapal berada dalam bahaya di menjungkirbalikkan penghalang dan gubernur Juan de Esquivel segera diselamatkan pulau dengan beberapa tentara Spanyol ‘… con cierto golpe de españoles, …’. Setelah ini Matelief episode refolded pada Ternate, di mana ia mendirikan benteng Malayo. 10
Pada 16 Juni 1608 armada Belanda yang baru (sesuai dengan Esquivel berpartisipasi dalam serangan: tujuh kapal, dapur dan sebuah pataco) diperintahkan oleh van Caerden, dan dibantu oleh kontingen dari 26 kapal dan tentara Ternatese banyak, berlabuh di depan tua benteng Portugis Tidore dengan tujuan untuk menyerang dan menaklukkan kota, tetapi pertahanan disiapkan oleh Tidorese dan Spanyol penyerang mundur, setelah tinggal sekitar dua puluh hari di jangkar di depan benteng Portugis lama. Mereka mengubah tujuan mereka dengan menyerang pulau Makian.11
Benteng Tohula, Tidore, Indonesia. Author van de Wall (1928)
Setelah upaya gangguan pada Tidore dipimpin bulan Juni oleh Belanda, orang Spanyol dipaksa untuk memperkuat garnisun pulau. Pada Agustus 1608 orang Spanyol di Tidore yang terdiri dari 140 tentara dan sebuah dapur dengan lain 40 tentara di kapal dengan total 180 orang.12
Selama pemerintah Lucas de Vergara Gaviria, antara akhir tahun 1609 dan Januari 1610, upaya lain gagal untuk mengepung Tidore dibuat oleh armada yang dipimpin oleh Simon Jansz Hoen, yang hanya berjalan selama blokade laut dari pulau Tidore dan serangan dan menangkap benteng Spanyol di pulau Bachan.13
The Jesuit Jorge da Fonseca, yang dirancang untuk perawatan spiritual dari garnisun Spanyol di Tidore, 14 menggambarkan pulau Tidore dalam suratnya dari April 8, 1612: ‘… que hé huma ilha quatro legoas de Ternate, de mouros amigos nossos, onde há alguns christãos da terra, portuguezes casados e hum presidio de soldados hespanhoes, que todo este tempo atrás avia estado sem padre por falta de sacerdotes’.15 Misi Yesuit Tidore sebenarnya sampai akhir 1610 tanpa seorang ayah, kemudian dalam suratnya Fonseca menjelaskan Tidore lagi, kali ini membuat referensi untuk dua benteng Spanyol di pulau.16
Keberadaan dua benteng ada lebih ditingkatkan dengan “Correspondencia” oleh Geronimo de Silva, yang menurutnya, pada tahun 1612, orang-orang Spanyol sibuk dengan garnisun mereka dua benteng di pulau Tidore 17, dua garnisun adalah Portugis tua benteng, dekat kota Soa Siu dan benteng di Marieko di pantai barat, mereka telah diperkuat dan ditingkatkan oleh Vergara gubernur pada 1609. Dalam tahun-tahun berikutnya karena meningkatnya tekanan dari Belanda di Tidore, orang-orang Spanyol dipaksa untuk meningkatkan benteng dan garnisun pasukan di pulau dan untuk meninggalkan beberapa benteng di pulau-pulau terluar Morotai dan Halmahera (di tengah dari 1613 adalah meninggalkan benteng dari Sabugo (Mei-Juli 1613) dan San Juan de Tolo (Agustus 1613)).
Tahun 1613 adalah tahun ketika Belanda mencoba beberapa kali untuk mengusir Spanyol dari pulau permanen, dengan serangan terhadap Marieco dan benteng kota utama Tidore. Pada bulan Februari 1613, Belanda merebut benteng Marieco, dibangun kembali dan menempatkan pasukan yang kuat di sana. Benteng ini merupakan duri di sisi Spanyol sampai ditinggalkan oleh Belanda pada tahun 1621/1622. Setelah hilangnya Marieco, orang-orang Spanyol berlari mencari perlindungan, mengirimkan dua perusahaan dari 100 tentara masing-masing untuk Tidore, mereka diperintahkan oleh Kapten Diego Don Quiñones de dan oleh panji Don Fernando Becerra, yang memerintahkan perusahaan Kapten Pedro Zapata.18
Sebuah bagian dari tentara ditakdirkan untuk Becerra itu, bagaimanapun, dialihkan ke garnisun lain, karena menurut kesaksian Sersan Fernando de Ayala, Becerra memiliki dua puluh tentara di bawah komandonya dengan Arrequibar panji dan total pasukan Spanyol hadir di Tidore, menghitung prajurit Don Diego de Quiñones adalah 119 tentara termasuk perwira.19 Sebuah benteng baru yang disebut ‘Marieco el Chico’, yang terletak di sekitar benteng Marieco diduduki oleh Belanda, yang garrisoned oleh pasukan Spanyol. Juga benteng Socanora, terletak di sebelah selatan ibukota Tidore garrisoned oleh garnisun Spanyol kecil.
Tidore
Pada bulan Juli 1613, Belanda dan Ternatese melakukan serangan terbesar mereka langsung ke kota Tidore, di mana mereka bisa menangkap benteng tua dari Portugis, sementara serangan berikutnya terhadap beberapa Socanora dan kota Tidore mengakibatkan banyak kegagalan bagi Belanda, yang kemudian dipaksa untuk meninggalkan penaklukan hanya mereka membuat: benteng Portugis.
Dalam surat yang menarik ditulis oleh raja Tidore, Cachil (Kaicil) Mole, 9 Juli 1613, hari penaklukan oleh Belanda dari benteng Portugis, Raja menunjukkan kepada Gubernur Ternate, Geronimo de Silva , yang utuh kepedulian terhadap situasi putus asa pasukan Spanyol dan Tidorese di Tidore juga karena kelangkaan makanan dan perbekalan, raja menyerukan pengiriman segera pasukan Spanyol lebih, dalam suratnya ia datang juga untuk membayangkan ditinggalkannya pulau dan penarikan semua orang di Ternate “ó inviar aquí mas españoles, ó que nos vamos todos á Terrenate”. 20
Keadaan terus menerus perang antara Belanda dan Spanyol, dan di antara mereka sekutu ternatese dan tidorese menyebabkan pemiskinan tanah dan populasi, yang juga diperhatikan oleh pengunjung biasa seperti Inggris John Saris, yang berhenti selama beberapa hari di Tidore selama 1613, yang menyatakan penyesalannya pada keadaan menyedihkan dari kerusakan dibawa ke pulau-pulau oleh perang berkelanjutan.21
Untuk menunjukkan pentingnya yang orang Spanyol berikan kepada Tidore adalah bahwa di bawah urutan yang tepat dari Juan de Silva juga Gubernur Ternate, Geronimo de Silva, pada tahun 1614-an pindah ke Tidore, ia akan berada di pulau itu, di benteng baru (Santiago de los Caballeros atau Tahula) dibangun oleh orang-orang Spanyol, untuk waktu yang lama di tahun 1615 dan 1616.22 Dalam “Correspondencia” oleh Geronimo de Silva, yang ditulis di Tidore surat tanggal: 5 Mei 1612, 12 Desember 1614, 12 Mei 1615, 13 Juli 1615, 19 Agustus 1615, 8 Maret 1616, April 1 , 1616, April 17, 1616, 17 Juni 1616, 25 Juni 1616;, 8 Agustus 1616, 20 Agustus 1616 dan 12 Maret 1617.
Dalam tahun-tahun berikutnya keadaan perang antara dua kekuatan Eropa saingan adalah untuk bertahan, tapi selain dari pertempuran beberapa, Belanda tidak akan mencoba lebih banyak serangan seperti yang dibawa dalam skala besar pada 1613, karena mereka akan mengubah taktik, berusaha untuk mengganggu dalam hubungan antara Spanyol dan tidorese dan merusak aliansi antara keduanya. Terutama mereka mendekati Pangeran Tidore, yang jatuh cinta dengan Ratu Jailolo, mencoba untuk mendapatkan dia di pihak mereka.
Namun, bahkan setelah 1.613 orang Spanyol dipaksa untuk terus-menerus mempertahankan garnisun yang kuat di pulau. Di tengah-tengah dari 1616 ada lebih dari 200 tentara Spanyol untuk garnisun benteng Tidore, dan bahwa dalam benteng dari Santiago, del Príncipe, Tomanira dan Socanora.23 “…por las pocas fuerzas que hoy tiene el rey de Tidore, por ser muy solo y no tener en su isla lo que tenia hasta aqui, por lo que me conviene tener siempre en esta isla sobre ducientos hombres en la plaza de Santiago y en el fuerte del Principe, Tomanira y Socanora“.24
Maluku 1714
Pada bulan Mei 1619 Gubernur Ternate, Lucas de Vergara Gaviria, memberitahu kita bahwa pulau Tidore Spanyol memiliki empat benteng: Tohula, Tomanira, Sokanora dan benteng baru San Lucas de el Rume. Benteng-benteng di tangan Spanyol, Vergara memberitahu kita, membuang sepertiga dari garnisun normal.25 Kurangnya pasukan adalah konstan sepanjang periode kontrol Spanyol pulau.
Orang Belanda yang diduduki dari 1.613 benteng Marieco antara 1.621 dan 1.622 dibongkar dan ditinggalkan. Seluruh pulau pada tanggal ini dan sampai hampir ditinggalkan akhir oleh tentara Spanyol tahun 1663 tetap berada di bawah kendali orang-orang Spanyol dan sekutu Tidorese mereka. Orang-orang Spanyol terus di pulau Tidore sampai tahun-tahun terakhir kehadiran mereka tiga berikut benteng: Rume, Taula (Tahula) dan Sobo (Cobo, Chobo). 26
Pada tahun-tahun berikutnya serta dengan Belanda, orang Spanyol memiliki beberapa masalah serius dan krisis yang berbeda dalam hubungan dengan sekutu terdekat mereka, raja Tidore, khususnya antara 1636-1640 dan paling parah pada sekitar tahun 1655-1660, ketika pulau Tidore tetap dalam keadaan pemberontakan konstan. Periode pertama krisis bertepatan dengan perampasan kerajaan oleh cachil Naro, dan aksesi ke tahta Tidore oleh cachil Borotalo, didukung oleh Pedro de Heredia Gubernur Spanyol.
Situasi itu diselesaikan berkat ketabahan dari gubernur baru, Pedro Muñoz de Carmona y Mendiola, dipanggil untuk menggantikan Pedro de Heredia. Dia datang ke Ternate dengan urutan tertentu untuk menempatkan di atas takhta raja yang berhak dari Tidore, Naro cachil, yang telah tidak adil kehilangan mahkotanya oleh Pedro de Heredia, yang telah dimasukkan ke dalam tempatnya yang Borotalo cachil (sepupu raja cachil Naro).
Tampaknya Heredia punya friksi dengan cachil Naro mengenai penjualan cengkeh, karena ini Pedro de Heredia dipengaruhi Tidorese untuk meninggalkan dia dan bersumpah setia kepada cachil Borontalo, sepupunya. Cachil Naro kemudian terpaksa berlindung dengan Belanda di benteng mereka Malayo. Untuk alasan ini dan lainnya itu kemudian memutuskan untuk membuka proses hukum terhadap tindakan Pedro de Heredia. The Naro cachil digambarkan sebagai seorang pria yang setia dan berani dan selalu setia kepada orang-orang Spanyol.
Gubernur baru Pedro de Mendiola diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam tempat cachil Naro, yang untuk saat ini ia tidak bisa melakukan, karena cachil Naro mengungsi di benteng Belanda Malayo. Ini adalah situasi, Pedro Muñoz de Carmona y Mendiola ditemukan, ketika ia datang untuk memerintah di Ternate. Dia telah menerima instruksi ketat dari Gubernur Filipina Sebastian Hurtado de Corcuera untuk mengembalikan legalitas, diam-diam menghubungi, melalui surat cachil Naro, yang diasingkan ke Malayo, tapi sekarang diperintahkan untuk Ternate untuk diletakkan kembali pada tempatnya sebagai raja Tidore, sejak Pedro de Heredia tidak memiliki wewenang untuk mengambil kerajaan.
Adapun apa yang akan menjadi langkah dari orang-orang Spanyol untuk berhubungan kembali dengan cachil Naro dan menempatkan dia kembali tahtanya, ada dokumen yang menarik ditandatangani oleh Gubernur Filipina Sebastian Hurtado de Corcuera: “Orden e instrucción que los generales Pedro de Mendiola, gobernador de Terrenate y Jerónimo Somonte, capitán general de la armada real an de guardar en razón de la restitución del rey Cachil Naro a su reino, Cavite January 8, 1636”.
Dalam dokumen, yang menampilkan rencana Spanyol, tampak bahwa, setelah tiba di Ternate, Mendiola diam-diam menghubungi cachil Naro dan mengundangnya atau pada galleon Spanyol atau di kota Ternate, menjamin keamanan melalui kartu gubernur, setelah cachil Naro datang untuk berbicara dengan Mendiola, gubernur harus menunjukkan penyesalan dia atas tindakan Pedro de Heredia, yang tidak membantu dengan cachil senjata Spanyol Naro untuk membela diri terhadap lawan-lawannya dan telah memungkinkan dia untuk dicabut kerajaannya.
Orang-orang Spanyol sekarang berharap untuk memperbaiki hal ini dengan menyediakan pasukan mereka untuk bermukim kembali cachil Naro di Tidore, disediakan, ia mengakui bantuan Spanyol dan aliansi dengan orang-orang Spanyol. Usulan Spanyol adalah untuk menyatukan Tidorese di tinggal setia kepada cachil Naro bersama dengan tentara Spanyol dan mengambil alih kerajaan. Perjanjian itu harus disediakan oleh pakta resmi antara dua jenderal Spanyol (Pedro de Mendiola dan Jerónimo Somonte) dan cachil Naro.
Setelah mencapai kesepakatan dengan cachil Naro, dokumen menjelaskan langkah yang akan dilakukan terhadap perampas tersebut. Langkah pertama adalah untuk melepaskan cachil Reues de sehingga ia bisa berikan kepada sang raja cachil Bontalo (Borontalo) kartu mengundangnya ke benteng Spanyol, di mana ia akan dihibur dengan kata-kata baik dan hadiah sebelum Naro cachil akan tiba untuk mengambil atas dan menempati Tidore. Operasi ini sangat penting, menjaga mereka rahasia, tak seorang pun kecuali Melon Juan Spanyol sersan Gonçales de Caceres, dan kapten don Pedro de Almonte, Sebastian Bauptista dan Pedro de la Mata harus membuat sesuatu yang sadar atau bahkan tersangka dari apa yang sedang mempersiapkan .
Jika hal-hal mengambil kursus berharap dan cachil Naro dimasukkan kembali tahtanya, Jenderal Geronimo de Somonte adalah untuk membawa raja terguling cachil Borontalo ke Manila, di mana ia bisa mendapatkan keadilan sebelum Audiencia dan gubernur dan jika terbukti alasannya sendiri mungkin dipulihkan di kerajaan, meskipun ia harus telah membuat jelas bahwa Pedro de Heredia tidak punya hak untuk melengserkan cachil Naro dan itu tidak mungkin untuk petugas di Spanyol akan melengserkan sekutu Raja, memang, jika ini telah dicoba, Heredia mempertaruhkan nyawanya atas perbuatannya.
Setelah masalah diselesaikan dan menetap cachil Naro di atas takhta Tidore, raja baru harus diminta untuk memberikan kepada orang-orang Spanyol 4 atau 6 biasa ‘caracoras’ dengan 400 Tidorese, yang harus menerima gaji yang sama seperti pampangas prajurit garnisun. Instruksi juga termasuk kemungkinan permintaan caracoras dan laki-laki untuk kasus cachil Borotalo akan tetap berkuasa. 27
Sejauh ini rencana orang-orang Spanyol, tetapi kerahasiaan mutlak, hal dasar dari seluruh operasi, tidak disimpan, karena, cachil Borontalo harus dipelajari tentang niat dari Spanyol dan atas permintaannya, Belanda dan ternatese yang setia dibunuh cachil Naro, tampaknya cachil Borotalo telah berjanji kepada Belanda untuk membangun benteng di pulau.
Pedro Muñoz de Carmona y Mendiola mampu, namun, untuk menakut-nakuti (katakanlah dokumen dengan susah payah) dari Malayo, putra dari Naro cachil dan pewaris sah nya, cachil Sayde. Orang-orang Spanyol kemudian memutuskan untuk meletakkan cachil Borotalo dan menetap sebagai Raja putra cachil almarhum Raja Naro, yang Sayde cachil. Pedro Muñoz de Carmona y Mendiola bertindak dengan hati-hati dan berhasil mencegah desain Raja perampas, mengelola untuk mengejutkan dia di rumah pulau sendiri dan menghukum dia sebagai pengkhianat, mengelola untuk membunuhnya ditikam. Jadi dia bisa melaksanakan perintah yang dia terima untuk menangkap atau membunuh cachil Borontalo. Semua ini dilakukan oleh Sersan Mayor Francisco Hernandez dan oleh panji Bernaue de la Plaza, yang diberikan sebagai hadiah perusahaan. Berkat ini pulau seluruh Tidore menjadi jinak dan raja yang berhak cachil Zayde, putra cachil Naro, yang bertahta, semua pemimpin Tidorese dilakukan lagi tindakan tunduk kepada mahkota Spanyol.
Tentang episode ini menarik untuk dicatat bahwa tidak semua orang Spanyol disetujui, apa yang telah terjadi, pada kenyataannya, beberapa biaya dibesarkan pada tahun 1640 ‘me tomò residencia de dhos cargos’ oleh Sersan Pedro de Arias Mora, melawan Pedro Muñoz de Carmona y Mendiola, pada perilakunya pemerintahan di Ternate. Dari 5 tuduhan yang dilaporkan oleh Arias de Mora, biaya kelima adalah bahwa Carmona y Mendiola tidak menjaga persahabatan yang baik dengan raja Tidore cachil Borotalo, yang bukan Carmona y Mendiola memerintahkan untuk membunuh dan kemudian ditikam sampai mati tanpa pengadilan dan tanpa mencoba kejahatan pengkhianatan, yang ia dituduh. Semua tuduhan itu, tentu saja, ditolak oleh Gubernur Filipina Sebastian Hurtado de Corcuera (ia adalah penghasut dari seluruh operasi), yang dibebaskan Carmona y Mendiola dari semua tuduhan.28
Periode Krisis kedua adalah jauh lebih parah dan berlangsung dari akhir masa pemerintahan cachil Sayde hingga 1659. Semuanya dimulai dengan perselisihan antara cachil Sayde, raja Tidore, dan Belanda, ketika cachil Calomata terpilih Sultan Ternate oleh beberapa Ternatese, yang menolak Sultan yang sah cachil Mandaraja. The Sayde cachil, raja Tidore, yang tampaknya untuk membantu para pemberontak diam-diam, sesuatu yang ia tidak diperbolehkan untuk dilakukan, karena sebagai subjek Raja Spanyol ia terikat oleh ketentuan perjanjian perdamaian, menyimpulkan antara Spanyol dan Belanda.
Belanda memprotes keras terhadap Cachil Sayde, yang untuk jangka waktu tertentu menjalani tahanan oleh Spanyol dan kemudian pemberontakan itu ditumpas. Kemudian Cachil Sayde meninggal dan beberapa pemberontak Tidorese terpilih dalam bukunya tempat Cachil Golofino, yang umum dari laut Cachil Mandaraja dan sekutu Belanda, sehingga menolak pewaris sah tahta kerajaan Tidore, yang cachil Mole, anak dari cachil Sayde, yang didukung oleh orang-orang Spanyol. Namun pemberontak dibantu dengan senjata dan perlengkapan dari Belanda yang melanggar pasal-pasal perjanjian perdamaian yang disepakati.29
Saat yang paling serius bertepatan dengan pemberontakan yang disebut dari ‘Moors’ dari Toloa, yang mencapai puncaknya pada tahun 1657-1658, ketika pemberontak Tidorese diletakkan di bawah pengepungan pasukan Spanyol dari Tidore selama hampir satu tahun. Beberapa dokumen yang menggambarkan fakta menarik dari periode ini: perintah, ditandatangani oleh Gubernur Diego Sarria Lascano dan Tidore tanggal 12 Maret 1657, memberikan kita informasi menarik tentang pemberontakan Tidorese pada 1657, yang didefinisikan dalam dokumen lain: ‘alzamiento de los moros de los pueblos de Toloa‘.
Dokumen ini membahas organisasi ekspedisi hukuman terhadap para pemberontak, karena keseriusan situasi, gubernur Diego Sarria Lascano, datang secara pribadi untuk Tidore untuk merencanakan ekspedisi. Dalam dokumen Kapten Alonso Lossano, kepala benteng’Santiago de los Caualleros‘, meninggalkan perintah dari Spanyol dan pampanga infanteri, menerima perintah untuk pergi dengan pasukan raja Tidore, teman dan sekutu dari orang-orang Spanyol, untuk menghukum beberapa pengikut raja desa Toluca dan Tongoiza, yang telah memberontak.
Setelah tiba di tempat, yang telah diidentifikasi dan dipilih pada pertemuan (pertemuan dewan perang, yang rupanya didahului ekspedisi), orang Spanyol itu untuk menduduki dan memperkuat dalam cara terbaik mungkin, karena tempat ini adalah untuk menjadi basis utama pasukan Spanyol selama operasi, dalam benteng harus berada sedikitnya dua potong artileri dan sebuah garnisun yang baik. Kemudian, benteng pos selesai, kapten bersama dengan pasukan tentara harus mengambil tempat lain, yang strategis terletak di atas desa pemberontak ‘, di mana mereka harus membentengi dan menempatkan garnisun tentara. Untuk pos-pos garnisun kapten bisa mengambil banyak prajurit dari benteng di Tomanira, di mana dalam perintah asisten Francisco Peres, benteng terakhir masih akan tetap dipertahankan dengan baik. Tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk mengurangi pemberontak untuk taat dengan kekerasan atau membawa mereka untuk menuntut perdamaian dan membangun penyerahan.30 Ekspedisi yang dipimpin oleh Kapten Alonso Losano, tidak cepat menyadari, pada kenyataannya, kampanye untuk penaklukan dari dua desa berlangsung lebih dari dua bulan, di mana orang-orang Spanyol membakar dan menghancurkan dua desa musuh dan kemudian menyerang dan menangkap sebuah benteng musuh, setelah kemenangan ini Spanyol mundur ke benteng mereka ‘Santiago de los Caualleros’.31
Ekspedisi atas Maret 1657 tidak menyelesaikan masalah, bahkan kemudian ada terjadi bentrokan lebih dengan para pemberontak, yang bahkan mengepung benteng Spanyol dari ‘Santiago de los Caballeros’.
Dokumen lain memberitahu kita tentang beberapa peristiwa yang terjadi selama pengepungan, selama periode panjang perang, tentara Spanyol untuk garnisun benteng ‘Santiago de los Caualleros‘ menderita kelaparan untuk kekurangan makanan akibat perang berkelanjutan melawan Belanda, pemberontak Ternatese dan Tidorese. Sebagai garnisun benteng itu tanpa makanan dan tanpa kemampuan untuk menerima itu dari Ternate, karena pengepungan, yang mereka dikenakan oleh musuh, Joseph de Garces (yang bertanggung jawab atas benteng) memutuskan untuk menyerang dengan memaksa infanteri sebuah desa musuh untuk menyerang makanan. Untuk tujuan ini Juan Rodríguez de Origuey dikirim dengan dua tentara lainnya pada pengintaian, mereka mampu memata-matai musuh dan berhasil menangkap satu musuh dan memiliki informasi, yang kemudian menyebabkan penaklukan dan penangkapan desa musuh. Dengan makanan yang ditemukan di desa orang Spanyol mampu mempertahankan selama dua hari, sangat sedikit, tapi untungnya empat hari setelah tiba dari Manila penyelamatan yang memungkinkan orang-orang Spanyol untuk terus melawan pengepungan. Beberapa hari setelah acara ini para pemberontak Belanda dan Ternatese mengakar dan dikepung dengan artileri benteng ‘nuestra’32 Untuk penyelamatan garnisun benteng ini beberapa prajurit yang dikirim, termasuk Juan de Origuey. Mereka tetap membela benteng ini selama pemberontakan berlangsung, sesekali membuat forays untuk menyuburkan tanaman dan makanan liar lainnya. Benteng Infact Gomafo, yang terletak di sebuah bukit yang tinggi yang menghadap kota raja Tidore, tidak mudah disediakan dengan makanan selama pengepungan berkepanjangan. Garzes memberitahu kita bahwa selama periode ini, tentara Spanyol banyak benteng diteruskan ke infact, musuh mereka tidak bisa lagi mentolerir kelaparan. Selanjutnya musuh mengepung setiap malam sebuah desa teman Tidorese dari Spanyol,33 terletak di dekat benteng Spanyol, untuk membakar dan menghancurkan itu dan sehingga Spanyol dikirim sebagai garnisun di desa pasukan infanteri. Pada 1658, musuh telah meninggalkan parit di mana mereka mengepung benteng Spanyol, pasukan tentara menyerang musuh, menempatkan mereka untuk melarikan diri. Pengepungan berlangsung hampir satu tahun dan Origuey memberitahu kita bahwa orang-orang Spanyol menderita kelaparan, harus makan pohon dan tumbuhan liar, karena ini kesulitan lebih dari 100 tentara pergi ke musuh.34 Setelah peristiwa ini orang Spanyol tetap di Tidore selama beberapa tahun lagi, dan seperti akan kita lihat, dibongkar beberapa garnisun di pulau sudah, mulai tahun 1661-1662.
Sekarang mari kita melihat secara detail seperti benteng orang Spanyol diduduki atau dibangun di pulau Tidore, pada periode antara 1.606 dan 1663. Dalam dokumen Spanyol, saya telah berkonsultasi, disebutkan sekitar selusin nama benteng, 35 atau jadi garnisun di Pulau Tidore, yang, bagaimanapun, tidak selalu mudah untuk mengatakan di mana mereka benar-benar berada dan selama periode apa mereka benar-benar diduduki oleh tentara Spanyol. Kadang-kadang benteng yang sama disebut dengan nama yang berbeda pada waktu yang berbeda. Posisi sebenarnya dari benteng sangat sulit untuk menentukan, menurut data, saya bisa berkumpul, ini adalah lokasi yang paling mungkin dari benteng-benteng Spanyol di pulau Tidore:
Chobo: (Cobo, ekstrim ujung utara pulau)
Rume: (Rum, barat laut pulau)
Marieco: (Marieko, barat pulau, langsung di pantai)
Tomañira(mungkin juga Marieco el Chico): (tepat di sebelah selatan Marieko, dibangun di atas tempat yang tinggi, dekat Marieco (sekitar setengah dari liga Marieco (2960 m)).
Marieco el Chico (mungkin Tomañira): ‘media legua’ (2960 m) dari Marieko.
Sokanora: (tepat di sebelah selatan Soa Siu, setengah liga (2960 m) di selatan Grande Lugar, di sebuah bukit dekat laut)
Tahula, Santiago de los Caballeros: (Soa Siu, terletak di sebuah bukit di atas laut yang menghadap ke Grande Lugar, selatan itu)
Baluarte del Principe: (Soa Siu, ‘fuerte de abajo’ terletak di pantai di bawah Tahula)
Gomafo: (Soa Siu, benteng Raja Tidore, terletak di sebuah bukit di pedalaman menghadap ke laut)
Fuerte de los Portugueses: (di utara Soa Siu, terletak di utara Grande Lugar 3 tembakan dari espingarda 750 m), atau seperempat dari liga (1480 m) atau tembakan pistol besar (1000 m))
Peta Tidore, yang menunjukkan kemungkinan situs benteng Spanyol. Author Marco Ramerini
LEGENDA:
Gomafo: Fort Raja Tidore
Marieco: (1614 dan 1619) benteng Belanda
Semua benteng lainnya: benteng Spanyol
Lanjutkan: Pertahanan kota Raja: Lugar Grande De El Rey (Soa Siu)
Diterjemahkan dengan Google Translator
NOTES:
1“Instrucción a Juan de Esquivel para conservación Terrenate, 02-11-1606” AGI: Patronato,47,R.17
Dalam semua kemungkinan tanggal November 2, 1606 adalah salah, karena Acuña meninggal pada Juni 1606, menjadi salinan, itu mungkin sebuah kesalahan penyalin, tanggal 2 Mei 1606 tampaknya masuk akal.
2 Argensola, Bartolomé Leonardo de “Conquista de las islas Malucas” (Madrid, 1609) (Madrid, 1992) 343
3 Colin-Pastells “Labor Evangelica de los obreros de la compañia de Jesus en las isla Filipinas” (Barcelona, 1902) vol. III 317 note n°1
4“Carta di Geronimo de Silva a Felipe III, sobre el estado del Maluco, Terrenate, 13 de abril de 1612” in: Various authors “Correspondencia de Don Gerónimo de Silva con Felipe III, D. Juan de Silva, el Rey de Tidore y otros personajes desde abril de 1612 hasta febrero (abril) de 1617, sobre el estado de las islas Molucas” in: “Coleccion de documentos ineditos para la historia de España, tomo 52” (Madrid, 1868) 6
5“Tanto de carta que el gobernador Gerónimo de Silva escribió al arzobispo de Manila, Terrenate, 28 de jullio de 1613” in: Various authors “Correspondencia” 158-160
6“Descripción de las islas de Terrenate,Tidore,y otras” AGI: Patronato,34,R.29
7“Carta de D. Gerónimo de Silva al rey Felipe III, Ternate, 13 de abril de 1612” in: Various authors “Correspondencia” 13
8 “Carta de don Geronimo de Silva a Felipe III, sobre el estado del Maluco. Terrenate, 13-04-1612” in Various authors “Correspondencia” 5-15
9 Matelief telah tiba di Ternate dengan armada delapan kapal (six vessels and two ‘yachts’: Oranje, Mauritius, Erasmus, Kleine Zon, Pichon (?), one ‘yacht’ (Witte Leeuw ?), Enchuisa (Enkhuizen) (met in Ambon), Delft ( which had come from Banda)) with 531 men on board.
10 Tiele “De Europeers in den Maleischen archipel, 1606-1610” 70-72
“Fr. Luís Fernandes, superior to King Philip II of Portugal. Ternate, 27 de abril de 1608” Document n° 29 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 96
Prevost, Abate Antonio Francisco “Historia General de los viajes, ó nueva colección de todas las relaciones de los que se han hecho por Mar y Tierra… Tomo XIII: Viajes de los Holandeses a las Indias Orientales” (Madrid, 1773) 66-67
“Fr. Jerónimo Gomes to Fr. Jerónimo Gomes. Cochin, 25 de novembro de 1608” Document n° 35 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 119
de Jonge, “De Opkomst van het Nederlandsch gezag in Oost-Indië, 1595-1610”, (‘s-Gravenhage, 1862-1909) vol. III, 55.
11“Informatie van den stant van de Molucques, door Jan Bruyn, 12 may 1609” in: “De reis van de vloot van Pieter Willemsz Verhoeff naar Azië , 1607-1612” vol. II, 303-304
de Booy “De derde reis van de VOC naar Oost-Indië onder het beleid van admiraal Paulus van Caerden uitgezeild in 1606” vol. I, 63-64
Pastells “Historia general de Filipinas” tomo VI (1608-1618) pp. xxxvi-xxxvii di mana menerbitkan “Letter of Esquivel to the Audiencia, August 13, 1608” AGI 1-2-1/14, ramo 30
“Fr. Lorenzo Masonio to Fr. Claudio Acquaviva. Ternate, 20 de marzo 1609” Document n° 38 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 135, 144.
12 Pastells “Historia general de Filipinas” tomo VI (1608-1618) pp. xxxvi-xxxvii where is published the “Letter of Esquivel to the Audiencia, August 13, 1608” AGI 1-2-1/14, ramo 30
13“Journael en de verhael”, in: “De reis van de vloot van Pieter Willemsz Verhoeff naar Azië, 1607-1612” vol. I, 276-281
“Informaciones Lucas de Vergara Gaviria, 1611” AGI: Filipinas,60,N.12
Tiele “De Europeers in den Maleischen archipel, 1606-1610” 102-103
14“Fr. João Baptista to Fr. Claudio Acquaviva. Ternate, 2 de abril 1611” Document n° 53 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 192
Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 24*
15“Fr. Jorge da Fonseca to Fr. Claudio Acquaviva. Ternate, 8 abril 1612” Document n° 59 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 217-218
16“Fr. Jorge da Fonseca to Fr. Claudio Acquaviva. Ternate, 8 abril 1612” Document n° 59 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 224
17 “Carta di Geronimo de Silva a Felipe III, sobre el estado del Maluco, Terrenate, 13 de april de 1612” in: Various authors “Correspondencia” 6
18 “Traslado de la carta que escribió el gobernador don Gerónimo de Silva al rey de Tidore, sobre la pérdida del puerto de Marieco, Terrenate, 10 de febrero de 1613” in: Various authors “Correspondencia” 85
19 “Carta que escribió el sargento mayor don Fernando de Ayala […] al el señor don Gerónimo de Silva, Tidore, 16 de febrero de 1613” in: Various authors “Correspondencia” 90-91
20 “Carta del Rey de Tidore a D. Gerónimo de Silva, Tidore, 9 July 1613” in: Various authors “Correspondencia”138
21 Kerr, Robert “A General History and Collection of Voyages and Travels, Vol. VIII.” Sec. XV. “Eighth Voyage of the English East India Company, in 1611, by Captain John Saris” Sec.5. “Further Observations respecting the Moluccas, and the Completion of the Voyage to Japan”
22 Perintah untuk Geronimo de Silva yang jelas, ia harus pindah ke Tidore dengan sebagai tentara sebanyak mungkin, sementara masih meninggalkan garnisun yang baik di Ternate. “Tanto de carta quel señor don Juan de Silva escribió á el señor don Geronimo de Silva en 20 de setiembre de 1614” in: Various authors “Correspondencia” 255
23 Rios Coronel, Hernando de los “Memorial y relacion…” 1621, Madrid, Spain, in: Blair, E. H. e Robertson, J. A. “The Philippine Islands, 1493-1898” vol. 19 (1620-1621), 214 mana adalah kutipan dari surat Geronimo de Silva kepada Gubernur D. Juan de Silva, July 29, 1616.
24 “Lettera di Gerónimo de Silva a D. Juan de Silva, Tidore, 8 agosto 1616” in: Various authors “Correspondencia” 387-388
25 “Carta de Lucas de Vergara Gaviria al Rey defensa Maluco. Terrenate, 31 maggio 1619” AGI: Patronato, 47, R. 37
Pastells “Historia general de Filipinas” tomo VI (1608-1618) pp. clxvii-clxviii, Berikut adalah beberapa bagian dari surat yang sama Vergara.
26“Catalogue of the Philippine Jesuits for the Holy Congregation de Propaganda Fide. Manila, 20 Iunii 1662” Document n° 196 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 615.
“Catalogue of the Jesuit missionaries in the Philippines for the Holy Congregation de Propaganda Fide. Manila, 31 Julii 1663” Document n° 201 in: Jacobs, “Documenta Malucensia III, 1606-1682” 624.
27 “Carta de Corcuera sobre socorro de Terrenate y Cachil Naro. Carta de Sebastián Hurtado de Corcuera, gobernador de Filipinas, dando cuenta del envío del socorro a Terrenate; encuentro que tuvieron con un galeón enemigo y regreso del gobernador de Terrenate, Pedro de Heredia. Por triplicado. (Cat. 16196)
Acompaña: Orden e instrucción que los generales Pedro [Muñoz de Carmona y] Mendiola, gobernador de Terrenate y Jerónimo Somonte, capitán general de la armada real deben de guardar en razón de la restitución del rey Cachil Naro a su reino. Manila, 5 de julio de 1636. Con duplicado. (Cat. 16199). [c] 02-07-1636. Manila” AGI: Filipinas,8,R.3,N.72
28 “Confirmación de encomienda de Bacnotan, etc Expediente de confirmación de las encomiendas de Bacnotan y Binmaley en Pangasinan a Pedro Muñoz de [Carmona y] Mendiola. Resuelto. [f] 23-05-1647” AGI: Filipinas,49,N.66 Blok 1 lembar 2-7
“Informaciones: Pedro Muñoz de Carmona y Mendiola. Informaciones de oficio y parte: Pedro Muñoz de Carmona y Mendiola, general, vecino de Manila, casado con María de Valmaseda, única descendiente de Martín de Esquivel, sargento, Juan de Esquivel, maestre de Campo y Juan Ezquerra, general. Información con parecer. Duplicado. Tres minutas de pareceres. [f] 1649” AGI: Filipinas,61,N.26 Blok 1 lembar 3, 5, 11-13, 28-29, 38, 40, 50-52, 64-66, 76-79, 152-153, 161-191, 213-215; Blok 2 lembar 3; Blok 4 lembar 2-3; Blok 5 lembar 2-3; Blok 6 lembar 2; Blok 8 lembar 9-11
29 “Confirmación de encomienda de Mambusao. Expediente de confirmación de la encomienda de Mambusao en Panay a Sebastián de Villarreal. Resuelto. [f] 19-05-1676” AGI: Filipinas,54,N.11
30 “Confirmación de encomienda de Baratao. Expediente de confirmación de las encomiendas de Baratao en Pangasinan a Alonso Lozano. Resuelto. [f] 16-06-1676” AGI: Filipinas,54,N.12
31 “Confirmación de encomienda de Majayjay, etc. Expediente de confirmación de las encomiendas de Majayjay y Santa Cruz en La Laguna de Bay a Juan Rodríguez de Origuey. Resuelto[f]. 08-06-1695” AGI: Filipinas,58,N.3
32 Ini adalah benteng Gomafo, seperti terlihat dari dokumen kemudian, peringatan Juan de Origuey: segera setelah musuh bercokol dirinya di sebuah senapan ditembak dari benteng ‘Domafo‘ (Gomafo) yang terletak di tempat yang sangat strategis ‘por ser eminente alas de mas‘ dan benteng yang bersangkutan berada dalam bahaya besar, orang-orang Spanyol mengirimkan beberapa prajurit, termasuk Juan de Origuey untuk memperkuat pembela benteng, Origuey berjuang dalam membela hari benteng dan malam. Origuey lakukan selama ini pengepungan serangan mendadak terhadap beberapa pertahanan musuh dan berusaha untuk mendapatkan makanan dan juga membela desa ‘mori‘, setia kepada Spanyol; ‘defendio el pueblo de los moros de nuestra parcialidad‘, terletak di bawah benteng sampai musuh terpaksa pensiun. “Memorial of the ensign Juan de Origuey” (Manila, 20 September 1673) (lembar 18-20), dalam: “Confirmación de encomienda de Batangas, Expediente de confirmación de la encomienda de Batangas en Balayan a Lorenzo de Zuleta, Resuelto, [f] 03-04-1677“, AGI: Filipinas, 54, N.14.
33 Ini adalah kota raja Tidore, yang terletak di situs Soa Siu.
34 “Confirmación de encomienda de Majayjay, etc. Expediente de confirmación de las encomiendas de Majayjay y Santa Cruz en la Laguna de Bay a Juan Rodríguez de Origuey. Resuelto[f]. 08-06-1695” AGI: Filipinas,58,N.3
35 Misalnya, van de Wall daftar hanya 4 benteng di pulau Tidore: Vesting Tahoela (Soa-Sioe), Vesting Tsjobbe (Soa-Sioe), Fort Roemi (Roem), Fort Marieko (Marieko).
van de Wall, V. I. “De Nederlandsche oudheden in de Molukken” (‘s-Gravenhage, 1928) 267-269, 291-292.
Penelitian ini bertujuan ingin menjelaskan suatu aspek dari sejarah pulau Maluku yang sebagian besar masih belum diselidiki. Tujuannya adalah untuk melacak melalui studi naskah dan dokumen lainnya kerangka awal dari benteng, Spanyol telah dibangun di pulau Tidore, salah satu dari Maluku, Kepulauan Rempah dongeng, selama tahun 1521-1663.i
Seperti diketahui, sudah dari ekspedisi Magellan (1521) orang-orang Spanyol mencoba beberapa kali untuk mendapatkan kontrol dari Kepulauan Rempah dengan mengorbankan Portugis, dengan siapa mereka sering perbedaan pahit. Orang-orang Spanyol aliansi dibentuk dengan raja-raja Tidore dan Jailolo dan pasukan Spanyol berada di pulau-pulau selama tahun 1527-1534 dan 1544-1545. Kegagalan untuk menemukan jalan kembali melintasi Pasifik, bagaimanapun, mencegah mereka untuk bersaing dengan kekuatan angkatan laut Portugis. Tahun 1529 Spanyol dan Portugal menandatangani perjanjian mengenai Maluku Perjanjian Zaragoza, dengan siapa Raja Spanyol meninggalkan semua klaim di pulau-pulau, setidaknya secara nominal, dengan imbalan 350.000 dukat.
Periode pertama dari kepentingan orang-orang Spanyol di Maluku ini ditandai dengan perjuangan melawan Portugis untuk kontrol kepulauan. Ini dimulai dengan kedatangan ekspedisi Magellan pada tahun 1521 dan berakhir tahun 1545 dengan penyerahan kepada Tentara Portugis Villalobos. Antara kedua ekspedisi bangsa Spanyol mengirimkan armada lain, termasuk orang-orang dari Loaisa (1527) dan Saavedra (1528) serta petualangan malang ekspedisi Grijalva (1538). Ekspedisi Villalobos disiapkan setelah Perjanjian Zaragoza. Untuk alasan ini ekspedisi diarahkan ke pulau rempah-rempah yang tidak ditentukan belum ditempati oleh Portugal. Pusat dari semua kegiatan dari orang-orang Spanyol tetap sepanjang periode pulau Tidore.
Dilanjutkan dengan: Kontak pertama dari Spanyol dengan pulau Tidore dan benteng Spanyol lebih dulu.
Versi Italia selesai.
1.0 Le Fortezze Spagnole nell’isola di Tidore 1521-1663: introduzione
iSelain buku ini di pulau Tidore Saya juga menyiapkan studi tentang benteng-benteng Spanyol di Ternate dan Maluku pulau lainnya. Ini penelitian khusus merupakan bagian dari penelitian yang lebih besar pada kehadiran Spanyol di Maluku (1606-1663), studi yang saya sudah mengabdikan beberapa tahun, namun karena kompleksitas masih dalam pembuatan. Untuk tujuan penelitian, yang saya lakukan, itu juga akan menarik untuk melihat tempat-tempat yang disebutkan dalam dokumen di tempat dan untuk melaksanakan kerja yang sistematis pengakuan dari sisa-sisa benteng. Saya akhirnya akan mampu mempelajari beberapa dokumen dasar, yang saya anggap sangat menarik dan penting, yang ada di Franciscano Archivo Ibero-Oriental (AFIO) di Madrid dan dalam arsip lainnya. Saat ini, bagaimanapun, saya belum kesempatan dan sarana keuangan untuk melanjutkan penelitian saya bekerja di tempat.
UCAPAN TERIMA KASIH: Untuk dukungan diberikan saya mengucapkan terima kasih kepada: Jennifer van der Greft untuk bantuan berharga dalam menerjemahkan dokumen berbahasa Belanda, Arnold van Wickeren, Nuno Varela Rubim dan Hellebrand Walter. Saya juga ingin mengungkapkan pujian saya untuk layanan online dari arsip Spanyol (pares), di mana saya bisa melihat secara langsung di komputer saya banyak naskah Arsip Jenderal Hindia di Seville. Ini adalah situs web mereka sangat berguna: PARES Portal de Archivos Españoles.
INDEKS
BENTENG SPANYOL DI PULAU TIDORE 1521-1663
– Introduksi
– Yang pertama kontak Spanyol dengan pulau Tidore dan Spanyol lebih dulu benteng
– Setelah peristiwa
– Orang Spanyol benteng di pulau Tidore, 1606-1663
Pertahanan kota Raja
– Lugar Grande De El Rey (Soa Siu)
– Fuerte de los Portuguéses (Fortaleza dos Reis Magos)
– Tohula, Santiago de los Caballeros
– Sokanora
Pantai barat dan pantai utara pulau
– Marieco
– Marieco el Chico
– Tomanira
– Chobo
– Rume
Lampiran
– Puli Caballo
– Kapten dari Tidore (Benteng Santiago de los Caballeros)